Rabu, 06 Mei 2009

SEJARAH ALAM TAMAN HUTAN RAYA IR. JUANDA

Bentang alam spesifik kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda merupakan sebagian Daerah Cekungan Bandung yang sangat khas keberadaan rupa buminya dibanding daerah lainnya dan terjadinya Daerah Cekungan Bandung ini disebabkan dari gejolak alam dengan periode tertentu dalam era pembentukan alam semesta ini, diantaranya:
Pada permulaan PERIODE PLESTOSEN (satu juta tahun yang lalu). Didaerah Priangan sekarang terdapat gunung yang sangat besar dengan dasar piramidanya ± 20 Km2 dan ketinggiannya variable antara 3.000 m dpi sampai dengan 5.000 m dpi dinamakan Gunung Sunda.
Pada jaman PERIODE HELOSEN (sebelas ribu tahun yang lalu). Gunung Sunda tersebut diatas mengalami erupsi/meletus yang pertama kalinya dan terbentuklah dibekas letusannya kaldera berupa telaga besar Situ Hiang atau Danau Bandung serta muncul anak gunungnya yang diberi nama oleh orang-orang daerah tersebut dengan nama Gunung Tangkuban Perahu.
Pada kurun waktu PERIODE PURBA (4000 - 3000 tahun lalu); Situ Hiang atau Danau Bandung tersebut diatas airnya menyusut lewat aliran Sungai Cikapundung dan Citarum dengan pintu alirannya terdapat di Sanghiang Tikoro, maka caldera Situ Hiang tersebut menjadi susut kering terbentuklah Dataran Tinggi Bandung yang membentang dari Cicalengka (disebelah Timur) sampai dengan Padalarang (disebelah Barat) sejauh ± 50Km dan batas sebelah utaranya Bukit Dago sampai dengan Soreang (sebelah Selatan) sejauh ± 30Km. (Prof. Dr. Th. H. F Klom; The Geology of Bandung, 1956)
Salah satu sisa ekosistem hutan di Cekungan Bandung yang sekarang masih dapat kita nikmaati sebagai hutan kota adalah Kawasan Hutan Taman Hutan Raya Pr. H. Djuanda dimana dahulu merupakan tempat perikehidupan manusia Zaman Batu sebagai halaman rumahnya I pekarangan sekaligus merupakan tempat berkumpul dan membuat persenjataannya/ pakarang.
SEJARAH AIR TERJUN MARIBAYA
Maribaya berasal dari nama seorang perempuan sangat cantik yang menjadi sumber kehebohan bagi kaum laki-laki. Saking terpesona oleh kecantikannya, pemuda-pemuda di kampungya sering cekcok sehingga sewaktu-waktu bisa terjadi pertumpahan darah. Itulah gambaran keindahan Maribaya tempo dulu. Karena keindahan dan kenyamanan wilayah itu, lokasi pemandian air hangat itu diabadikan dengan nama Maribaya. Keelokan pemandangan disertai desiran air terjun digambarkan bagai seorang gadis cantik jelita yang membuat setiap pemuda bertekuk lutut. Namun, apakah objek wisata Maribaya saat ini masih seperti dulu yang membuat setiap orang ingin menyambanginya ?
Sejak mulai dikembangkan tahun 1835 oleh Eyang Raksa Dinata, ayah Maribaya, lokasi objek wisata itu berhasil mengubah kehidupan Eyang Raksa Dinata yang sebelumnya hidup miskin menjadi berkecukupan. Banyak orang yang berkunjung ke tempat tersebut. Mereka tidak hanya datang untuk berekreasi menghirup udara segar alam pengunungan dan perbukitan, tetapi banyak juga yang berobat dengan cara berendam di air hangat.
Eyang Raksa Dinata yang sebenarnya hanya ingin menghindari pertumpahan darah di kampungnya, malah mendapat berkah kekayaan setelah mengelola sumber air panas mineral yang dapat dipergunakan untuk pengobatan itu. Keluarga Maribaya memperoleh penghasilan dari para pengunjung yang datang berduyun-duyun.
PATAHAN LEMBANG
Di wilayah dekat obyek Wisata Maribaya fenomena alam yang dikenal dengan (Lembang Fault) Seluruh kawasan Tahura Ir. H. Djuanda memiliki satu jenis batuan, yaitu batuan vulkanik yang berkembang dari jaman kwarter tua. Salah satu fenomena geomorphologi yang paling khas di wilayah ini adalah Patahan Lembang (Lembang Fault). Letak patahan ini berada di Maribaya yang Sekaligus merupakan batas bawah dari Sub DAS Cikapundung Hulu.Fenomena Patahan Lembang ini apabila diamati akan nampak berupa lineament, yaitu struktur geologi yang membentuk garis lurus membujur arah Barat Laut-Tenggara. Secara fisik di lapangan patahan ini berupa punggung bukit atau ngarai terjal (escarpment) yang membujur Iurus, struktur geologi ini, mengontrol aliran sungai, sehingga aliran sungai Sub DAS Cikapundung HuIu berbelok dan mengalir mengikuti arah patahan.
Patahan Lembang adalah patahan yang membentang kearah barat – Timur lalu berbelok tenggara mulai dari daerah Parongpong lalu menghilang di sekitar daerah Sumedang , Secara genetic sesar ini dikenal dengan sesar nomal, dimana blok disebelah utara yang bertindak sebagai hanging wallnya, relatif lebih turun dibandingkan dengan blok yang berada disebelah selatan, yang merupakan foot wallnya. Keterbentukan sesar ini menurut Van Bemmelen 1949 akibat dari amblasan yang merupakan efek dari kosongnya ruang magma pada saat letusan besar Gunung sunda, dan berarti umur dari sesar ini lebih muda dari umur endapan sunda yang dihasilkan.
Namun setelah melihat data data yang berhasil dikumpulkan oleh Arya Juarsa meliputi peta topografi , Citra satelit, Analisis besar butir dan peta penyebaran endapan piroklastik gunung sunda, Kami berpendapat bahwa sesar lembang ini bukan sesar normal saja melainkan sesar oblique, dengan elemen pergerakan mendatar dekstral ( menganan ) analisis ini dasarkan pada pembelokan sungai Cimahi secara pada daerah Paneunteung ( Peta Topografi Bakosurtanal Lembar Cimahi n0 1309 – 313 ), dari analisis peta topografi dan citra satelit juga terlihat bahwa terjadi pergeseran secara menganan pada lembah curam di daerah desa Cihanjuang Rayu.
Dari hasil analisa statistic terhadap standar deviasi dari nilai tengah ukuran butir endapan gunung sunda (arya juarsa, 2007) , kami mencoba menggunakan suatu metoda geostatistik yaitu metode Krieging untuk menganalisa sebaran endapan endapan piroklastik, (walker dalam fischer dan schminke 1978) membuat batasan bahwa nilai standar deviasi dibawah 2 merupakan endapan piroklastik jatuhan dan nilai standar deviasi diatas 2 merupakan endapan aliran, dengan dua cara diatas kami mengkonturing daerah penelitan berdasarkan sebaran nilai standar deviasi perstasiun pengamatan. Lalu kami bandingkan dengan pola kelurusan sebagai bahan acuan sesar

Hasil yang dapatkan tenyata sebaran dari endapan piroklastik gunung sunda ini ternyata di pengaruhi oleh kelurusan kelurusan yang di interpretasi sebagai sesar lembang dan sesar cimandiri , di sebelah timur dari penyebaran endapan kami menemukan bahwa endapan piroklaslik aliran yang semula bergerak kearah barat daya ( posisi normal waktu endapan terbentuk ) berubah menjadi terseret kearah timur dan sebaliknya endapan jatuhannya juga terseret kearah barat pada zona batas kelurusan sesar lembang, dan kontur penyebaran standar deviasi juga menunjukan pola yang sama yaitu Dekstral, selain itu juga akibat dari pensesaran yang dilakukan oleh sesar cimandiri terlihat bahwa terjadi perubahan pola kontur penyebaran dengan arah dekstral juga.( arya juarsa, 2007 )
Data arah pergerakan sesar sesar tadi kamu coba bandingkan dengan model menganan harding maka kami berpendapat bahwa sesar lembang ini merupakan sesar sintetik dari sesar utama yaitu sesar cimandri, berbeda dengan pak Iyan dalam papernya “tektonik baribis – Cimandiri” yang menyebut sesar lembang merupakan sesar antitetik dari sesar cimandiri .
Dan umur dari sesar lembang tentu lebih muda dari endapan yang dipotongnya, dari peta penyebaran sesar ini mengoyak endapan sunda purba yang berumur 38300 ( hadisantono 1988) dan data diatas sangat cocok dengan umur yang diajukan oleh van bemmelen ,1949 ) secara neotectonik pergerakan sesar ini bergeser sekitar 0,013 cm/ tahun ( Perhitungan pergeseran sungai cimahi dan umur endapan yang bergeser) dan menurut (Matsuda, 1977) merupaka sesar aktif tipe B dengan kekuatan gempa kurang lebih 4 SR.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar