Rabu, 06 Mei 2009


Waspadai Potensi Aktifnya Patahan Lembang

Wilayah Selatan Rawan Gempa

Bandung, Kompas - Warga di permukiman wilayah selatan Cekungan Bandung diminta waspada terhadap potensi terjadinya gempa tektonik. Daerah selatan merupakan titik terawan di wilayah Bandung dan sekitarnya. Potensi kerusakan di daerah itu sangat besar.

Ditemui di sela-sela kunjungan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta ke Institut Teknologi Bandung (ITB), Kepala Pusat Mitigasi Bencana ITB I Wayan Sengara menepis anggapan bahwa Bandung dan sekitarnya adalah daerah yang aman dari potensi gempa.

Menurut Wayan, yang terjadi justru sebaliknya. Potensi kerentanan gempa di Cekungan Bandung hampir setingkat dengan wilayah DI Yogyakarta.

"Berdasarkan survei risk assesment process yang bersumber dari peta mikrozonasi Kota Bandung, didapatkan data bahwa kawasan Bandung ini memiliki tingkat kerentanan sedikit di atas medium, yaitu 3-4 (dari skala enam)," ujar Wayan, Kamis (22/3).

Daerah yang paling rawan, lanjut Wayan, khususnya ada di selatan, yaitu mulai dari Gedebage sampai Soreang. "Meski tidak separah di Aceh dan Sumatera Barat, potensi itu tetap ada," ujarnya. Danau purba

Wayan menjelaskan, penyebab tingginya tingkat kerawanan di wilayah selatan Cekungan Bandung adalah kondisi geografis wilayah itu.

Cekungan Bandung, kata Wayan, yang notabene adalah eksdanau purba pada ribuan tahun silam-memiliki struktur tanah yang labil. Di wilayah itu, tanah lempung menjadi bahan utama penyusunnya.

Bila terjadi gempa, meski skala magnitudenya kecil, yaitu antara 5-6, cukup untuk meluluhlantakkan kawasan Bandung selatan. Bandung Kulon

Wayan menjelaskan, berdasarkan data mikrozonasi, kawasan Bandung Kulon, Lengkong, Cicadas, Arcamanik, Ujungberung, hingga Cibiru berada dalam zona building damage (kerusakan bangunan) tinggi, yaitu pada skala 70-80. Padahal, normalnya di bawah 50.

Anggota Masyarakat Geografi Indonesia T Bachtiar membenarkan pendapat Wayan. Bachtiar mengatakan, Bandung dan sekitarnya tidak terbebas dari potensi bencana gempa tektonik.

Karakteristik materi tanah penyusun yang berupa lempung, menurut Bachtiar, akan mengakibatkan getaran gempa berpotensi semakin keras terjadi di wilayah selatan Cekungan Bandung.

Bachtiar meminta masyarakat agar waspada terhadap keberadaan patahan Lembang di utara Bandung. Patahan yang berakhir di Cimerta dan Sungai Citarum ini diyakini mampu melepaskan energi meski ratusan hingga ribuan tahun lalu tidak lagi aktif.

Kondisi yang membahayakan dan patut diwaspadai ini adalah kenyataan karena adanya interkoneksi sesar dengan patahan Cimandiri di Palabuhanratu, Sukabumi.

"Patahan Cimandiri ini membujur dari Ujunggenteng sampai ke Padalarang. Jika patahan ini aktif, akibat dipicu gempa subduksi sebesar 6-7 skala Ritcher di lempeng benua Samudra Hindia, misalnya, bukan tidak mungkin akan berimbas ke patahan Lembang," kata Bachtiar.

Jika hal itu terjadi, menurut Bachtiar, akibatnya bagi Bandung akan sangat mengerikan.

Untuk mengatasi dampak buruk dan potensi bencana yang mungkin akan timbul, Wayan menyarankan perlu dilakukan penyesuaian kebijakan tata ruang wilayah dan desain.

Hal itu, kata Wayan, khususnya dalam pembuatan bangunan. Seyogianya pembuatan bangunan berorientasi pada struktur tahan gempa.

"Kebijakan ini patut dicermati khususnya dalam konteks pembangunan kawasan primer kedua Gedebage yang tengah digarap sekarang," kata Wayan. (jon)

SEJARAH ALAM TAMAN HUTAN RAYA IR. JUANDA

Bentang alam spesifik kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda merupakan sebagian Daerah Cekungan Bandung yang sangat khas keberadaan rupa buminya dibanding daerah lainnya dan terjadinya Daerah Cekungan Bandung ini disebabkan dari gejolak alam dengan periode tertentu dalam era pembentukan alam semesta ini, diantaranya:
Pada permulaan PERIODE PLESTOSEN (satu juta tahun yang lalu). Didaerah Priangan sekarang terdapat gunung yang sangat besar dengan dasar piramidanya ± 20 Km2 dan ketinggiannya variable antara 3.000 m dpi sampai dengan 5.000 m dpi dinamakan Gunung Sunda.
Pada jaman PERIODE HELOSEN (sebelas ribu tahun yang lalu). Gunung Sunda tersebut diatas mengalami erupsi/meletus yang pertama kalinya dan terbentuklah dibekas letusannya kaldera berupa telaga besar Situ Hiang atau Danau Bandung serta muncul anak gunungnya yang diberi nama oleh orang-orang daerah tersebut dengan nama Gunung Tangkuban Perahu.
Pada kurun waktu PERIODE PURBA (4000 - 3000 tahun lalu); Situ Hiang atau Danau Bandung tersebut diatas airnya menyusut lewat aliran Sungai Cikapundung dan Citarum dengan pintu alirannya terdapat di Sanghiang Tikoro, maka caldera Situ Hiang tersebut menjadi susut kering terbentuklah Dataran Tinggi Bandung yang membentang dari Cicalengka (disebelah Timur) sampai dengan Padalarang (disebelah Barat) sejauh ± 50Km dan batas sebelah utaranya Bukit Dago sampai dengan Soreang (sebelah Selatan) sejauh ± 30Km. (Prof. Dr. Th. H. F Klom; The Geology of Bandung, 1956)
Salah satu sisa ekosistem hutan di Cekungan Bandung yang sekarang masih dapat kita nikmaati sebagai hutan kota adalah Kawasan Hutan Taman Hutan Raya Pr. H. Djuanda dimana dahulu merupakan tempat perikehidupan manusia Zaman Batu sebagai halaman rumahnya I pekarangan sekaligus merupakan tempat berkumpul dan membuat persenjataannya/ pakarang.
SEJARAH AIR TERJUN MARIBAYA
Maribaya berasal dari nama seorang perempuan sangat cantik yang menjadi sumber kehebohan bagi kaum laki-laki. Saking terpesona oleh kecantikannya, pemuda-pemuda di kampungya sering cekcok sehingga sewaktu-waktu bisa terjadi pertumpahan darah. Itulah gambaran keindahan Maribaya tempo dulu. Karena keindahan dan kenyamanan wilayah itu, lokasi pemandian air hangat itu diabadikan dengan nama Maribaya. Keelokan pemandangan disertai desiran air terjun digambarkan bagai seorang gadis cantik jelita yang membuat setiap pemuda bertekuk lutut. Namun, apakah objek wisata Maribaya saat ini masih seperti dulu yang membuat setiap orang ingin menyambanginya ?
Sejak mulai dikembangkan tahun 1835 oleh Eyang Raksa Dinata, ayah Maribaya, lokasi objek wisata itu berhasil mengubah kehidupan Eyang Raksa Dinata yang sebelumnya hidup miskin menjadi berkecukupan. Banyak orang yang berkunjung ke tempat tersebut. Mereka tidak hanya datang untuk berekreasi menghirup udara segar alam pengunungan dan perbukitan, tetapi banyak juga yang berobat dengan cara berendam di air hangat.
Eyang Raksa Dinata yang sebenarnya hanya ingin menghindari pertumpahan darah di kampungnya, malah mendapat berkah kekayaan setelah mengelola sumber air panas mineral yang dapat dipergunakan untuk pengobatan itu. Keluarga Maribaya memperoleh penghasilan dari para pengunjung yang datang berduyun-duyun.
PATAHAN LEMBANG
Di wilayah dekat obyek Wisata Maribaya fenomena alam yang dikenal dengan (Lembang Fault) Seluruh kawasan Tahura Ir. H. Djuanda memiliki satu jenis batuan, yaitu batuan vulkanik yang berkembang dari jaman kwarter tua. Salah satu fenomena geomorphologi yang paling khas di wilayah ini adalah Patahan Lembang (Lembang Fault). Letak patahan ini berada di Maribaya yang Sekaligus merupakan batas bawah dari Sub DAS Cikapundung Hulu.Fenomena Patahan Lembang ini apabila diamati akan nampak berupa lineament, yaitu struktur geologi yang membentuk garis lurus membujur arah Barat Laut-Tenggara. Secara fisik di lapangan patahan ini berupa punggung bukit atau ngarai terjal (escarpment) yang membujur Iurus, struktur geologi ini, mengontrol aliran sungai, sehingga aliran sungai Sub DAS Cikapundung HuIu berbelok dan mengalir mengikuti arah patahan.
Patahan Lembang adalah patahan yang membentang kearah barat – Timur lalu berbelok tenggara mulai dari daerah Parongpong lalu menghilang di sekitar daerah Sumedang , Secara genetic sesar ini dikenal dengan sesar nomal, dimana blok disebelah utara yang bertindak sebagai hanging wallnya, relatif lebih turun dibandingkan dengan blok yang berada disebelah selatan, yang merupakan foot wallnya. Keterbentukan sesar ini menurut Van Bemmelen 1949 akibat dari amblasan yang merupakan efek dari kosongnya ruang magma pada saat letusan besar Gunung sunda, dan berarti umur dari sesar ini lebih muda dari umur endapan sunda yang dihasilkan.
Namun setelah melihat data data yang berhasil dikumpulkan oleh Arya Juarsa meliputi peta topografi , Citra satelit, Analisis besar butir dan peta penyebaran endapan piroklastik gunung sunda, Kami berpendapat bahwa sesar lembang ini bukan sesar normal saja melainkan sesar oblique, dengan elemen pergerakan mendatar dekstral ( menganan ) analisis ini dasarkan pada pembelokan sungai Cimahi secara pada daerah Paneunteung ( Peta Topografi Bakosurtanal Lembar Cimahi n0 1309 – 313 ), dari analisis peta topografi dan citra satelit juga terlihat bahwa terjadi pergeseran secara menganan pada lembah curam di daerah desa Cihanjuang Rayu.
Dari hasil analisa statistic terhadap standar deviasi dari nilai tengah ukuran butir endapan gunung sunda (arya juarsa, 2007) , kami mencoba menggunakan suatu metoda geostatistik yaitu metode Krieging untuk menganalisa sebaran endapan endapan piroklastik, (walker dalam fischer dan schminke 1978) membuat batasan bahwa nilai standar deviasi dibawah 2 merupakan endapan piroklastik jatuhan dan nilai standar deviasi diatas 2 merupakan endapan aliran, dengan dua cara diatas kami mengkonturing daerah penelitan berdasarkan sebaran nilai standar deviasi perstasiun pengamatan. Lalu kami bandingkan dengan pola kelurusan sebagai bahan acuan sesar

Hasil yang dapatkan tenyata sebaran dari endapan piroklastik gunung sunda ini ternyata di pengaruhi oleh kelurusan kelurusan yang di interpretasi sebagai sesar lembang dan sesar cimandiri , di sebelah timur dari penyebaran endapan kami menemukan bahwa endapan piroklaslik aliran yang semula bergerak kearah barat daya ( posisi normal waktu endapan terbentuk ) berubah menjadi terseret kearah timur dan sebaliknya endapan jatuhannya juga terseret kearah barat pada zona batas kelurusan sesar lembang, dan kontur penyebaran standar deviasi juga menunjukan pola yang sama yaitu Dekstral, selain itu juga akibat dari pensesaran yang dilakukan oleh sesar cimandiri terlihat bahwa terjadi perubahan pola kontur penyebaran dengan arah dekstral juga.( arya juarsa, 2007 )
Data arah pergerakan sesar sesar tadi kamu coba bandingkan dengan model menganan harding maka kami berpendapat bahwa sesar lembang ini merupakan sesar sintetik dari sesar utama yaitu sesar cimandri, berbeda dengan pak Iyan dalam papernya “tektonik baribis – Cimandiri” yang menyebut sesar lembang merupakan sesar antitetik dari sesar cimandiri .
Dan umur dari sesar lembang tentu lebih muda dari endapan yang dipotongnya, dari peta penyebaran sesar ini mengoyak endapan sunda purba yang berumur 38300 ( hadisantono 1988) dan data diatas sangat cocok dengan umur yang diajukan oleh van bemmelen ,1949 ) secara neotectonik pergerakan sesar ini bergeser sekitar 0,013 cm/ tahun ( Perhitungan pergeseran sungai cimahi dan umur endapan yang bergeser) dan menurut (Matsuda, 1977) merupaka sesar aktif tipe B dengan kekuatan gempa kurang lebih 4 SR.

Senin, 04 Mei 2009

Pasca Bencana Banjir Perkembangan 12 februari

depsos

I. PENDAHULUAN
Penanganan bencana banjir yang telah dilaksanakan oleh Departemen Sosial RI sejak tanggal 31 Januari s/d 12 Pebruari 2007 telah melawati masa Tanggap Darurat. Sesuai dengan Standardisasi Penangan Bencana Alam berdasarkan siklus bencana dari mulai Pra Bencana, Saat Bencana dan Pasca Bencana, maka Penanggulangan Bencana Banjir pada saat terjadi bencana adalah : Jangka waktu bantuan pangan disesuaikan dengan jenis dan besaran bencana sesuai kebutuhan, seperti :

1. Bencana Banjir Bantuan diberikan selama 3 s/d 7 hari atau dapat diperpanjang hingga 12 hari.
2. Bencana Tanah Longsor
3. Bantuan diberikan selama 3 s/d 7 hari. Bencana Angin Ribut/Angin Topan/Angin Puting Beliung/Tsunami
4. Bantuan diberikan selama 3 hari. Bencana Alam Gempa Bumi
5. Bantuan diberikan selama 5 s/d 10 hari. Bencana Alam Letusan Gunung Api
6. Bantuan diberikan selama 5 s/d 10 hari. Bencana Alam Kekeringan / Kekurangan Pangan Bantuan diberikan selama 15 s/d 30 hari.

Berdasarkan hasil Rapat Kerja dengan Bakornas maka kegiatan Tanggap Darurat Penanganan Bencana Alam Banjir di DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten telah selesai dan selanjutnya memasuki Tahap Pasca Bencana. Mengingat besarnya kejadian banjir dan korban yang menderita, maka Departemen Sosial membantu pemerintah DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten untuk menangani bencana banjir tersebut.

II. UPAYA YANG DILAKUKAN DEPARTEMEN SOSIAL
A. PRA BENCANA
Depsos telah memberikan bantuan kesiap siagaan pada seluruh propinsi dalam menghadapi musim hujan tahun 2007, melalui APBN dan APBN-P tahun 2006 berupa bantuan permakanan, sandang, evakuasi kit dan anggaran dekonsentrasi khusus untuk penanggulangan bencana tahun 2007.
B. TANGGAP DARURAT BENCANA

1. Mendirikan posko lapangan khusus menangani banjir di DKI Jakarta, jawa barat dan Banten.
2. Mobilisasi taruna siaga bencana (tagana) dari luar DKI Jakarta
* Tagana prov. Jawa timur 60 orang
* Tagana prov. Jawa tengah 50 orang
* Tagana prov. Sumut 12 orang
* Tagana dari unsur fk-psm 30 orang
* Tagana pusat 30 orang
* Tagana dari unsur ormas 25 orang
3. Memberikan tambahan bantuan kendaraan siaga bencana kepada pemerintah DKI Jakarta rescue tactical unit (rtu) sebanyak 4 unit untuk wilayah jaktim, jakbar, jakut dan jaksel.
4. Mengoperasikan unit siaga bencana berupa mobil rtu 6 unit, truk 5 unit, tangki air 2 unit
5. Mengoperasikan tambahan perahu evakuasi sebanyak 25 unit beserta perlengkapannya.
6. Mendirikan dapur umum lapangan di kantor Departemen Sosial yang menyediakan makanan sebanyak 5.000 bungkus per hari.
7. Menteri sosial bersama DPR mengadakan kunjungan langsung ke 5 wilayah yang terkena banjir (jakpus, jaktim, jakut, jakbar dan jaksel) bantuan berupa sandang, family kit dan kid ware.
8. Pada tanggal 8 pebruari menteri sosial juga memberikan bantuan ke ciledug-tangerang Banten berupa sandang, family kit dan kid ware.
9. Mendistribusikan barang-barang bantuan baik berupa permakanan, sandang dan kebutuhan lainnya melalui dinas sosial/kesos dengan terus berkoordinasi dengan satkorlak.
10. Mendistribusikan bantuan kepada posko-posko yang dikelola masyarakat dan organisasi sosial.
11. Menyediakan stock barang bantuan di posko lapangan Depsos ri. Berupa 3.000 dos mie instan, dan 10 ton beras.
12. Pada tanggal 10 pebruari 2007 departemen sosial telah memberikan bantuan bagi posko penanganan bencana di DKI Jakarta; rawa buaya dan semper barat, di Banten; pondok bahar - ciledug, masing-masing berupa mie instan 100 dos dan beras 500 kg.
13. Proses penanganan tanggap darurat di DKI Jakarta, jabar dan Banten akan terus dilanjutkan sampai keadaan normal pulih seperti semula selama masa tanggap darurat.
14. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) memperkirakan pada tanggal 9 s.d 12 pebruari 2007 di wilayah Jakarta dengan intensitas ringan-sedang kadang hujan lebat+petir pada sore hari dan malah hari. Bogor; hujan dengan intensitas ringan sampai lebat pada sore dan malam hari, tangerang; hujan dengan intensitas ringan sampai sedang kadang lebat+petir pada sore dan malam hari, bekasi; hujan dengan intensitas ringan sampai sedang kadang hujan lebat+petir pada sore dan malam hari. Kewaspadaan terhadap bencana banjir masih diperlukan meskipun di beberapa wilayah intensitas hujan menurun.
15. Sejak tanggal 9 pebruari 2007 melalui bumn, tni/polri dan unsur masyarakat telah dilaksanakan proses pembersihan puing-puing/sampah akibat banjir di wilayah DKI Jakarta.
16. Departemen Sosial pada tgl 10 pebruari 2007 telah menyalurkan bantuan sebanyak 1,5 ton beras dan 600 dos mie instans yang ditujukan kepada posko hmi di 6 titik.
17. Mulai tanggal 10 pebruari 2007 tagana jawa tengah sebanyak 50 orang telah kembali ke daerah asalnya/masing-masing.
18. Bersamaan dengan itu pula pada tanggal 11 pebruari telah bergabung kembali anggota tagana sebanyak 50 orang yang berasal dari unsur-unsur organisasi masyarakat (pii, baguna, simpatik, fk-psm) yang telah mengikuti pelatihan tagana melalui dana Departemen Sosial ri tahun 2006.
19. Melihat situasi tanggap darurat penanganan banjir di jabodetabek semakin pulih, maka posko Depsos yang membantu penanganan tanggap darurat banjir tersebut, mulai hari ini 12 pebruari 2007 untuk sementara dihentikan.



I. PENDAHULUAN
Penanganan bencana banjir yang telah dilaksanakan oleh Departemen Sosial RI sejak tanggal 31 Januari s/d 12 Pebruari 2007 telah melawati masa Tanggap Darurat. Sesuai dengan Standardisasi Penangan Bencana Alam berdasarkan siklus bencana dari mulai Pra Bencana, Saat Bencana dan Pasca Bencana, maka Penanggulangan Bencana Banjir pada saat terjadi bencana adalah : Jangka waktu bantuan pangan disesuaikan dengan jenis dan besaran bencana sesuai kebutuhan, seperti :

1. Bencana Banjir Bantuan diberikan selama 3 s/d 7 hari atau dapat diperpanjang hingga 12 hari.
2. Bencana Tanah Longsor
3. Bantuan diberikan selama 3 s/d 7 hari. Bencana Angin Ribut/Angin Topan/Angin Puting Beliung/Tsunami
4. Bantuan diberikan selama 3 hari. Bencana Alam Gempa Bumi
5. Bantuan diberikan selama 5 s/d 10 hari. Bencana Alam Letusan Gunung Api
6. Bantuan diberikan selama 5 s/d 10 hari. Bencana Alam Kekeringan / Kekurangan Pangan Bantuan diberikan selama 15 s/d 30 hari.

Berdasarkan hasil Rapat Kerja dengan Bakornas maka kegiatan Tanggap Darurat Penanganan Bencana Alam Banjir di DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten telah selesai dan selanjutnya memasuki Tahap Pasca Bencana. Mengingat besarnya kejadian banjir dan korban yang menderita, maka Departemen Sosial membantu pemerintah DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten untuk menangani bencana banjir tersebut.

II. UPAYA YANG DILAKUKAN DEPARTEMEN SOSIAL
A. PRA BENCANA
Depsos telah memberikan bantuan kesiap siagaan pada seluruh propinsi dalam menghadapi musim hujan tahun 2007, melalui APBN dan APBN-P tahun 2006 berupa bantuan permakanan, sandang, evakuasi kit dan anggaran dekonsentrasi khusus untuk penanggulangan bencana tahun 2007.
B. TANGGAP DARURAT BENCANA

1. Mendirikan posko lapangan khusus menangani banjir di DKI Jakarta, jawa barat dan Banten.
2. Mobilisasi taruna siaga bencana (tagana) dari luar DKI Jakarta
* Tagana prov. Jawa timur 60 orang
* Tagana prov. Jawa tengah 50 orang
* Tagana prov. Sumut 12 orang
* Tagana dari unsur fk-psm 30 orang
* Tagana pusat 30 orang
* Tagana dari unsur ormas 25 orang
3. Memberikan tambahan bantuan kendaraan siaga bencana kepada pemerintah DKI Jakarta rescue tactical unit (rtu) sebanyak 4 unit untuk wilayah jaktim, jakbar, jakut dan jaksel.
4. Mengoperasikan unit siaga bencana berupa mobil rtu 6 unit, truk 5 unit, tangki air 2 unit
5. Mengoperasikan tambahan perahu evakuasi sebanyak 25 unit beserta perlengkapannya.
6. Mendirikan dapur umum lapangan di kantor Departemen Sosial yang menyediakan makanan sebanyak 5.000 bungkus per hari.
7. Menteri sosial bersama DPR mengadakan kunjungan langsung ke 5 wilayah yang terkena banjir (jakpus, jaktim, jakut, jakbar dan jaksel) bantuan berupa sandang, family kit dan kid ware.
8. Pada tanggal 8 pebruari menteri sosial juga memberikan bantuan ke ciledug-tangerang Banten berupa sandang, family kit dan kid ware.
9. Mendistribusikan barang-barang bantuan baik berupa permakanan, sandang dan kebutuhan lainnya melalui dinas sosial/kesos dengan terus berkoordinasi dengan satkorlak.
10. Mendistribusikan bantuan kepada posko-posko yang dikelola masyarakat dan organisasi sosial.
11. Menyediakan stock barang bantuan di posko lapangan Depsos ri. Berupa 3.000 dos mie instan, dan 10 ton beras.
12. Pada tanggal 10 pebruari 2007 departemen sosial telah memberikan bantuan bagi posko penanganan bencana di DKI Jakarta; rawa buaya dan semper barat, di Banten; pondok bahar - ciledug, masing-masing berupa mie instan 100 dos dan beras 500 kg.
13. Proses penanganan tanggap darurat di DKI Jakarta, jabar dan Banten akan terus dilanjutkan sampai keadaan normal pulih seperti semula selama masa tanggap darurat.
14. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) memperkirakan pada tanggal 9 s.d 12 pebruari 2007 di wilayah Jakarta dengan intensitas ringan-sedang kadang hujan lebat+petir pada sore hari dan malah hari. Bogor; hujan dengan intensitas ringan sampai lebat pada sore dan malam hari, tangerang; hujan dengan intensitas ringan sampai sedang kadang lebat+petir pada sore dan malam hari, bekasi; hujan dengan intensitas ringan sampai sedang kadang hujan lebat+petir pada sore dan malam hari. Kewaspadaan terhadap bencana banjir masih diperlukan meskipun di beberapa wilayah intensitas hujan menurun.
15. Sejak tanggal 9 pebruari 2007 melalui bumn, tni/polri dan unsur masyarakat telah dilaksanakan proses pembersihan puing-puing/sampah akibat banjir di wilayah DKI Jakarta.
16. Departemen Sosial pada tgl 10 pebruari 2007 telah menyalurkan bantuan sebanyak 1,5 ton beras dan 600 dos mie instans yang ditujukan kepada posko hmi di 6 titik.
17. Mulai tanggal 10 pebruari 2007 tagana jawa tengah sebanyak 50 orang telah kembali ke daerah asalnya/masing-masing.
18. Bersamaan dengan itu pula pada tanggal 11 pebruari telah bergabung kembali anggota tagana sebanyak 50 orang yang berasal dari unsur-unsur organisasi masyarakat (pii, baguna, simpatik, fk-psm) yang telah mengikuti pelatihan tagana melalui dana Departemen Sosial ri tahun 2006.
19. Melihat situasi tanggap darurat penanganan banjir di jabodetabek semakin pulih, maka posko Depsos yang membantu penanganan tanggap darurat banjir tersebut, mulai hari ini 12 pebruari 2007 untuk sementara dihentikan.



thanks slamet for your contributions-

Jumat, 01 Mei 2009

Dede Yusuf: Waspadai 'Bencana' Caleg



INILAH.COM, Bandung - Wagub Jabar Dede Yusuf minta seluruh aparatur pemerintah mewaspadai segala bentuk bencana, termasuk bencana sosial yang diakibatkan kekecewaan hasil pemilu.

"Kita sudah terbiasa dengan bencana banjir dan longsor di mana-mana. Sebentar lagi mungkin bencana kekeringan. Tapi, kita juga harus waspada dengan bencana caleg," ujar Dede saat membuka latihan pemantapan Taruna Siaga Bencana (Tagana) Jabar di Grand Hotel Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), kemarin malam.

Bencana caleg, lanjut Dede, adalah kerawanan sosial akibat kekecewaan terhadap hasil pemilu legislatif. "Sekarang ada caleg yang stres, gila, bahkan bunuh diri.Kerawanan sosial bisa berubah jadi bencana sosial jika kekecewaan para caleg tersebut disusupi kepentingan pihak-pihak tertentu yang ingin mengacaukan stabilitas nasional," jelasnya.

Dede menyatakan bangga dengan kesigapan 1.160 orang Tagana yang dimiliki Jabar. Meski hanya dihonor Rp 100 ribu per bulan, pengabdian dan kesigapan Tagana dalam setiap bencana tidak diragukan lagi. "Meski ada yang berasal dari kader dan simpatisan partai politik, Tagana harus independen dan nonpartisan," pinta Dede.

Selama ini, Dede mengaku miris dan prihatin tiap kali ada bencana kerap muncul bendera-bendera parpol. Setiap parpol berlomba memasang bendera paling banyak dan tinggi. "Yang mentereng biasanya bendera parpol. Bantuannya sendiri tidak ada. Lain dengan Tagana yang tidak pernah ada bendera, tapi bantuannya benar-benar nyata," jelasnya.

Caleg stres juga banyak muncul karena terbiasa membantu, tapi raihan suaranya sedikit. "Tagana menolong demi kemanusiaan. Sementara parpol dan caleg membantu bencana karena ada maunya," ucap Dede.

Untuk itu, Dede mengaku akan memperjuangkan agar honor Tagana bisa naik. Jumlahnya pun ditargetkan bertambah, setidaknya 100-200 orang di setiap kabupaten/kota. "Pemprov akan makin serius menangani bencana. Aturan main akan diatur lebih tegas termasuk alokasi anggarannya," jelasnya.

Selama ini anggaran bencana lebih dari Rp 80 miliar. Tapi sulit dikeluarkan karena belum ada aturan dan mekanisme penggunaannya. "Aparat birokrasi bingung keluarkan anggaran bencana karena takut salah yang berakibat diperiksa KPK," kata Dede.

Sebagai ketua Satkorlak Penanggulangan Bencana, Wagub Dede Yusuf segera merilis SMS gate way bencana. "Laporan bencana nanti cukup SMS yang bisa langsung masuk ke ponsel gubernur, wagub, pangdam, dan kapolda," tandas Dede. [*/dil]